
Oleh L V Evy Puspitosari (Fasilitator AsIPA St. Damian)
Bengkong-Berkatnews.com. Perayaan hari kelahiran Kristus selalu dinantikan oleh seluruh umat kristiani di seluruh dunia, tak terkecuali umat di stasi St. Yosef, Kabil, yang masuk dalam wilayah Paroki St. Damian Batam. Perayaan Natal tahun 2017 ini dipersiapkan dengan baik oleh panitia natal stasi yang diketuai oleh bapak Jansen Pasaribu, koordinator wilayah St. Kanisius.
Seksi Dekorasi, yaitu bapak Yoseph Dipo Santoso menggandeng OMK sebagai tim dekorasi untuk perayaan natal tahun ini. Dua hal yang dipersiapkan selama 2 minggu oleh tim dekorasi yaitu kandang natal dan pohon natal.
Pohon natal yang dibuat dari ratusan botol bekas air mineral ini ingin menyampaikan pesan bahwa natal mendamaikan diri kita dengan lingkungan, barang bekas yang dibuang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain.
Sedangkan kandang natal dibuat seperti rumah adat melayu. Nuansa melayu sangat kental dalam liturgi misa malam natal, dari lagu-lagunya, penari pengantar persembahan serta kandang natalnya. Yesus kini hadir di rumah melayu, rumah kita. Mari kita menerima-Nya masuk dalam rumah kita.
Misa Malam Natal, Minggu 24 Desember 2017 yang dimulai pukul 19:00 wib ini dipimpin oleh RP. Sergius Rusdi Santosa, SS.CC, dibagi menjadi 3 bagian yaitu: Maklumat kelahiran Tuhan Yesus Kristus (Martyrologium), Perarakan, penyambutan dan peletakan patung bayi Yesus di palungan (kandang natal) dan Perayaan ekaristi.
Turut mengambil bagian dalam perayaan tersebut, petugas koor dari wilayah St. Agustinus, tatib dan kolektan dari wilayah Sta. Maria Ratu Damai, keamanan dari Polsek Nongsa bersama wilayah St. Karolus, petugas pembawa persembahan dari wilayah St. Ignatius, St. Yohanes Pemandi, St Don Bosco, Sta. Monika, OMK dan Kerasulan Anak.
Natal yang mengusung tema: “HENDAKLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS MEMERINTAH DALAM HATIMU” (Kolose 3:15) ini berlangsung meriah. Sekitar 2000an umat katolik dari 32 KBG yang ada di sekitar stasi St Yosef, Kabil, hadir dalam misa malam natal tersebut.*
Foto Dok




Sebelum menjelaskan tentang merangkai bunga altar, Pastor Philips lebih dulu menjelaskan tentang liturgi. Liturgi adalah perayaan misteri keselamatan Allah. Liturgi dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Karenanya, liturgi disebut juga perayaan Tuhan atau perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena Tuhan yang berinisiatif menjumpai manusia, Allah yang mencari dan mengundang manusia. Dan disebut perayaan iman karena dalam liturgi manusia menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuan-Nya. Dengan demikian, dalam liturgi terjadilah perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan ini membawa anugerah keselamatan bagi manusia, baik yang merayakan dan yang didoakan.
Dilihat dari kegiatannya, liturgi memiliki 2 unsur yaitu kebersamaan dan keresmian. Unsur kebersamaan liturgi nampak dalam kehadiran umat. Umat yang hadir bukan penonton tetapi dipanggil berpartisipasi secara sadar dan penuh, yakni berpartisipasi dengan jiwa dan raganya serta dikobarkan dengan iman, harapan dan kasih. Unsur keresmian liturgi nampak dari adanya ketentuan-ketentuan, aturan-aturan/pedoman yang ada. Secara umum pedoman liturgi mengacu pada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Dengan demikian liturgi bukan sembarang kegiatan dan sembarang perayaan, karena harus memenuhi unsur-unsur tersebut di atas. Dan sebagai salah seorang petugas liturgi, seorang perangkai bunga altar harus memahami benar tentang hal ini.
Semua umat dipanggil untuk berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam liturgi. Partisipasi tersebut meliputi: partisipasi batin (penghayatan pribadi), partisipasi lahir (keikutsertaan dalam berbagai tugas) dan partisipasi sacramental (menerima komuni)











































Setelah selesai Jalan Salib dilanjutkan dengan acara khas orang muda, bernyanyi ala OMK St. Damian.


Wajar bila Pastor Rusdi juga merasa kehilangan Erwin. Meskipun baru beberapa bulan menjadi pastor pendamping misdinar, Pastor Rusdi yang dikenal dengat dengan anak-anak dan remaja itu sering datang berkunjung ke rumah keluarga Erwin. Mengajak ngobrol dan bercanda, memberikan Komuni Kudus, juga memberikan Sakramen Perminyakan.
Kepergiannya membuatnya tidak jadi bertugas misdinar di Hari Raya Jumat Agung. Di masa sakitnya, ia selalu mendambakan bertugas melayani imam dalam Misa Jumat Agung dan berkesempatan membawa salib paling besar. Teman-temannya menyemangati agar cepat sembuh sehingga kuat mengangkat salib besar yang selubung ungunya dibuka oleh imam sambil menyanyikan: Lihatlah kayu salib…di sini…bergantung Kristus….penyelamat dunia.
Bersama teman misdinar sebayanya, ia dijuluki Sengklek Bersatu. Sebuah julukan yang mencerminkan kedekatan, keakraban, dan soliditas antaranggota misdinar. Bersama kesembilan kawannya ia selalu bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diemban. Ia tidak pernah pulang jika tugasnya belum selesai. Setelah benar-benar tuntas, tempat acara juga kembali bersih, barulah ia lega pulang ke rumah. Ke mana-mana, mereka selalu bersama. Dengan beberapa motor mereka berboncengan, saling menjemput dan mengantar, pergi latihan dan pertemuan, tugas misdinar, juga sekadar menghabiskan hari Minggu dengan makan di warung atau bermain di warnet.