Katedral-BerkatNews.com. Fasilitator dan Pengurus Komunitas se Paroki Katedral mengadakan rekoleksi bersama di Tanjungpesona, Sungailiat, Bangka pada Minggu (2/7). Tercatat 71 peserta ikut dalam rekoleksi yang dipandu RD. Yosef Setiawan dan RD. Beni Balun ini.
Tema sesi rekoleksi kali ini dibagi dalam 3 bagian: Tema Spiritualitas Kemuridan dan Hamba Allah dan Kepemimpinan Yang Melayani-Modul AsIPA D-8 oleh RD. Yosef, dan tema Sikap dan Gaya Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif (Modul B7 A-C) oleh RD. Beni.
Menurut koordinator Fasilitator Paroki dan Koordinator Pelaksanaan Rekoleksi, Bpk. Mikael Bekti, lewat rekoleksi ini diharapkan para fasilitator dan pemimpin komunitas semakin bertumbuh dalam semangat pemberian diri untuk menjadi hamba yang melayani.
Terkait rekoleksi fasilitator dan pengurus KBG, setelah Paroki Katedral, Paroki Santo Damian Bengkong juga akan mengadakan rekoleksi yang sama dengan tema Pelatihan Pembuatan Modul-modul Pertemuan KBG (23/7/2017). Menurut Koord. Fasilitator Santo Damian Bapak Julius Jonni, Koord.Wilayah, Pengurus inti KBG dan 2 orang fasilitator tiap KBG WAJIB mengikuti rekoleksi ini. (costmust/BerkatNews.com)
Foto dok Rekoleksi Fasilitator dan Pengurus KBG Katedral

Judul artikel ini dikutib begitu saja dari buku RD. Lurensius Dihe Sanga terbitan Amara, 7 tahun silam. Buku sesungguhnya merupakan buah dari Tesis Lisensiat Teologi yang ia raih pada Program Pasca Sarjana Fakultas Teologi Kentungan, Universitas SaDhar Yogyakarta pada tahun 2007-2009.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti mencatat prinsip ini. Struktur atau Organ dalam organisasi diperlukan untuk mendukung atau bahkan menjadi instrumen penting bagi perwujudan tujuan yang ditetapkan. Berdasarkan prinsip itu maka, sebelum berbicara mengenai organ atau struktur kita perlu memperhatikan dan memahami tujuan atau arah perziarahan kita.

«17. Keprihatinan: saya mengakui bahwa semua paroki di keuskupan kita sangat giat dengan berbagai kegiatan pastoral. Untuk semua ini saya sungguh berterima kasih. Tetapi haruslah diakui pula bahwa semua kegiatan itu belum keluar visi yang ingin kita capai atau belum diarahkan kepada visi. Kegiatan-kegiatan dilaksanakan tanpa visi, tanpa arah. Dalam pekan evaluasi yang lalu, dikatakan bahwa visi Keuskupan Pangkalpinang belum disosialisasikan kepada umat. Karena itu banyak umat belum mengetahui ke arah mana komunitas paroki hendak pergi; banyak umat belum mengetahu pedoman arah mana yang kita pakai; banyak umat belum tahu apa yang menjadi tolok ukur segala kegiatan pastoral kita. Kenyataan ini sungguh menyedihkan. Sebab kalau visi tidak dikenal, bagaimana orang bisa melaksanakan berbagai kegiatan yang terarah kepada visi. Kebanyakan kita melaksanakan karya demi karya itu bukan demi tercapainya visi.

Para Rasul, pada hari Kenaikan, jumlahnya 11 orang