Sambutan RD. Lucius Poya Hobamatan

Pagi itu
Bola merah berdiri di kaki langit
Seuntai senyum merekah di bibir horizon
Laut menggeliat penuh nafsu
Meraih senyum yang menggoda

Saat mata memandang ke bawah
Bening memantul panorama
Membuat Galang berdandan pesona
Penuh mistik
Berdaya magis

Dan
Bibir spontan berseru
Oh Ta On Duc Me
Di ujung jembatan
Antara Rempang dan Galang

Syair tanpa lagu. Spontan muncul di suatu pagi, tatkala dari Jembatan Lima memandang Galang, dalam cuaca cerah tanpa sapuan awan. Saat itu pernik-pernik kisah tentang pengungsi seakan mucul, ketika dari kejauhan tampak lalu lalang insan, entah untuk apa. Ya! Galang memang mempesona. Di sana, sebidang tanah mengukir kisah: kisah tentang cinta, kisah tentang kemanusiaan, kisah tentang iman. Betapa tidak. Kala itu, perang saudara berkecemuk di Vietnam, antara Utara dan Selatan, seperti Kain dan Habel. Kebencian seakan menjadi warna hidup, hanya karena perbedaan ideologi.

Akibatnya Vietnam bagai neraka. Di sana hanya ada cuaca duka, sebab deru bom membahana dalam hitungan detik, menggempur apa saja. Di sana maut seakan tidak lagi ada jadwal untuk merenggut setiap jiwa sesuai buku kehidupan, karena setiap detik ribuan nyawa melayang tanpa sebab. Vietnam bagai kubur tanpa lobang, karena di atas hamparan tanah, jasad-jasad tergeletak. Tidak ada lagi sapaan kasih requescat in pace ( pergilan dengan damai) kepada mereka yang meninggal, karena setiap orang berlari mencari perlindungan kalau-kalau bisa lolos dari moncong maut.

Badai kehidupan seperti itulah membuat siapa saja yang kebertulan lolos dari maut berjuang melintasi dahsyatnya Laut China Selatan, dengan harapan masih ada saudara yang masih bisa memberi harapan. Namun tidak semua. Dari jutaan orang yang berlari mencari suaka, jutaan orang ditangkap dan dibawa kembali untuk disiksa di camp-camp konsentrasi. Jutaan orang yang pada akhirnya direnggut maut bersama boat-boatnya. Dan jutaan pengungsi pada akhirnya boleh selamat karena mendarat di tempat-tempat yang masih mencintai kehidupan, termasuk sebidang tanah di Indonesia kala itu, yang kini dikenal dengan nama Galang.

Ya! Galang. Kala itu pulau ini masih terisolir, sehingga layak menjadi tempat menampung untuk mereka yang terhempas dari kehidupan. Di tempat ini, demi kemanusiaan, masyarakat Indonesia tanpa membedakan suku, rasa, agama dan budaya; bahu-membahu memberi bantuan agar mereka yang ditolak di negerinya boleh mengalami sebuah harapan dan kasih akan indahnya cinta dan hidup bersama. Dan memang di Galang, pengungsi mengalami kisah itu. Vietnam boleh menjadi neraka, namun di Galang kisah duka itu terhapus, karena pengungsi menemukan home land yang baru.

Tidak heran, di tahun 1980-an, setiap saat berdatangan kapal dari Tanjung Pinang, memuat ribuan pengungsi. Setiap kali melompat dari kapal ke pelabuhan kecil yang menjulur dari bibir pantai, muncul seruan spontan dari mulut-mulut pengungsi “Oh Ta On Duc Me” (Oh terimakasih Bunda). Hanya itu. Dan memang hanya itu yang bisa disebut. Namun sederetan aksara itu menyibak kisah panjang dan penuh warna di atas alunan gelombang laut yang dahsyat. Ya! Sebuah seruan pendek yang tampak dalam gerak bibir, karena tak mampu mengungkapkan ke-mahadahsyat-an hati Maria yang menyertai, menaungi dan melindungi para pengungsi di atas boat-boat kecil. Sebuah seruan dalam secuil kata yang menyibak fakta iman bahwa tanpa Maria, harapan kehidupan mungkin tak pernah sampai. Tidak heran, selain seruan itu terucap spontan saat melompat di pelabuhan Galang, seruan itu pada akhirnya diapresiasi melalui lukisan dan patung Maria entah dengan setting perahu di Galang Site II, maupun setting layar perahu di Galang Site I; seraya mengabadikan seruan itu “Ta On Duc Me “ dalam deretan aksara untuk boleh dibaca oleh siapa saja tentang pengalaman iman para pengungsi. Sebuah seruan yang menegaskan :” With Mary, we life; without Mary, we die”. Dan fakta iman bahwa per Mariam ad Iesu (melalui Maria, siapa saja sampai kepada Yesus) juga yang membawa teman-teman dalam tim untuk berjuang merancang ulang situs iman yang hampir digerus alam di Pulau Galang; sebuah situs yang mengisahkan bagaimana Maria berperan dalam memulihkan harapan dan mengembalikan kehidupan di saat anak-anaknya tidak lagi ada daya dalam melintasi hidup yang penuh gejolak.

Itulah sebabnya kami memulai mempersiapkan rencana pemugaran situs iman ini. Sebab situs ini selain untuk menyingkapkan kembali sejarah kemanusiaan tetapi sekaligus memperlihatkan kembali Maria, Bunda Penolong Abadi dalam ziarah hidup siapa saja. Karena Maria bukan hanya Bunda Penolong Abadi bagi anak-anaknya dari Vietnam, melainkan untuk semua anaknya, termasuk saya yang dalam waktu-waktu khusus dan sangat menentukan selalu datang ke Galang, kepada Dia yang telah dipersembahkan Yesus menjadi bundaku juga. Dialah yang membuat Galang memiliki kekuatan mistik, penuh daya magis.

Galang! Pulau di sebelah selatan Batam ini, dulu dikenal sebagai pulau pengungsi; pulau yang memberi hidup kepada mereka yang nyaris tak memiliki hidup. Kini pulau itu menjadi pulau wisata; pulau bagi mereka yang sibuk untuk sejenak melenturkan syaraf dan melepaskan kepenatan.

Tetapi bagi mereka yang mengimani Kristus, Galang memiliki dimensi lain. Pepohonan rindang dalam hutan tropis yang masih natural, dengan sepoi angin dalam kesunyian menolong siapa saja untuk menjumpai Dia, yang mungkin dalam kesibukan nyaris tidak dialami. Itulah sebabnya Galang menjadi pulau doa, karena ia memiliki daya magis. Tetapi Galang juga adalah pulau ziarah. Di sana ada seorang ibu yang selalu berdiri menanti dengan terbuka untuk siapa saja, di saat mengalami kemelut hidup yang terus menerpa. Ia mempunyai kekuatan mistik.
Di sana pernah kuukir sebuah melodi, saat bersama mereka yang terhempas hidupnya bergulat mengais hak hidup. Dalam ketidakberdayaan menghadapi tembok-tembok penguasa, saya berlari ke Galang, bersimpuh di kaki Maria, berseru dalam gejolak batin, yang terkadang tidak saya mengerti. Dan lahirlah sebuah syair ini:

Di tengah kehidupan yang penuh ancaman
Tiada tempat yang menjadi sandaran
Hanya dikau Bunda Maria
Anakmu datang memohon bantuan

Tolong kami
Bunda penuh kasih sayang
Ingat kami
Bunda penuh kerahiman
Maria Bunda Pembantu Abadi

Dalam kemelut hidup yang terus menerpa
Pelukan kasihmu jadi andalan
Tiada lagi jadi harapan
Hanya dikau Bunda Maria

Tolong kami
Bunda penuh kasih sayang
Ingat kami
Bunda penuh kerahiman
Maria Bunda Pembantu Abadi

Duka dan derita datang silih berganti
Mengiris bathin menyiksa nurani
Pada dikau anak meminta
Seberkas doa setetes rahmat

Tolong kami
Bunda penuh kasih sayang
Ingat kami
Bunda penuh kerahiman
Maria Bunda Pembantu Abadi

Ta On Duc Me.

RD. Lucius Poya Hobamatan
Ketua Yayasan Bentara Persada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.