Bandung, Berkatnews.com – Hari kedua Rapat Nasional SIGNIS ke-52 berlangsung pada pukul 08.00–11.00 WIB di Vila Deo Gratias dengan semangat belajar dan keterbukaan terhadap perkembangan teknologi digital. Sesi pertama bertajuk “Mastering Prompt Engineering: Prompt Engineering Workshop” dibawakan oleh Bapak Suryatin Setiawan bersama tiga mahasiswa Program Studi IT Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).
Kegiatan ini juga dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh 39 anggota serta volunter Komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik langsung selama sesi berlangsung.
Dari Internet Menuju Era Agentic AI
Dalam pengantar materinya, para narasumber menjelaskan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan sejak tahun 2022. Kehadiran teknologi seperti OpenAI (GPT), Google (Gemini), dan Microsoft (Copilot) mempercepat lahirnya era Generative AI (GenAI).

Suasana berlangsungnya workshop Mastering Prompt Engineering” di Era AI
Workshop ini memaparkan perjalanan transformasi digital: dari era internet dan media sosial, menuju fase AI Agent dan Agentic AI System, yakni sistem yang mampu “berpikir” sekaligus “bertindak” secara otomatis berdasarkan instruksi dan data yang diberikan.
Meski demikian, peserta diajak untuk tetap kritis. AI memang dapat meningkatkan produktivitas dan membantu menyederhanakan informasi kompleks, tetapi tidak memiliki hati nurani, empati, maupun kebijaksanaan moral sebagaimana manusia.
“Prompting adalah percakapan profesional yang sadar dan bertanggung jawab, bukan sekadar memberi perintah,” tegas narasumber.

Bapak Suryatin Setiawan bersama tiga mahasiswa Program Studi IT Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan Romo Stef Ketua Signis Indonesia
Peserta dilatih membangun prompt yang jelas, kontekstual, spesifik, dan etis agar AI dapat menjadi alat bantu yang efektif serta tidak menyesatkan.
Peluang dan Tantangan Moral
Workshop ini menyoroti dua sisi Generative AI.
Di satu sisi, AI dapat:
- Membantu pekerjaan administratif dan kreatif
- Mendukung UMKM dalam strategi digital
- Menjadi sarana belajar yang adaptif dan personal
Di sisi lain, terdapat tantangan serius:
- Risiko misinformasi dan halusinasi data
- Deepfake dan manipulasi konten
- Bias algoritma
- Isu etika serta dampak lingkungan
Dalam terang iman Katolik, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana yang mendukung martabat manusia, bukan menggantikannya.
AI sebagai Rekan Kerja, Bukan Pengganti
Workshop ini menegaskan bahwa AI adalah co-worker (rekan kerja), bukan pengganti manusia. Kreativitas alami, empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral tetap menjadi kekhasan manusia sebagai citra Allah.

Peserta Rapat Nasional Signis ke – 52
Para peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan teknik prompt engineering secara langsung, dipandu dan dikoreksi oleh narasumber. Suasana belajar berlangsung interaktif dan reflektif.
Pada sesi penutup, setiap peserta membagikan pengalaman penggunaan AI dalam media pewartaan di Komsos masing-masing keuskupan. Mayoritas peserta mengakui bahwa AI sangat membantu dalam produksi konten dan efisiensi kerja, namun tetap harus digunakan secara bijak.
Kesadaran bersama ditegaskan kembali: AI tidak boleh memperbudak manusia, apalagi merendahkan martabat manusia.
Melalui penguasaan teknik prompt engineering, umat Katolik diharapkan semakin siap memanfaatkan AI untuk pewartaan, katekese, pendidikan, serta karya baik secara relevan dan bertanggung jawab di era digital ini. (martin da silva, pr)

