Pangkalpinang , Berkatnews.com— Isu ekologi dan tanggung jawab iman menjadi sorotan dalam sesi kedua hari pertama Pertemuan Para Imam Keuskupan Pangkalpinang. Materi dibawakan oleh Dr. Ir. Ismed Inonu, M.Si., dengan tema Memulihkan Jaring Kehidupan: Ekologi dan Tanggung Jawab Bersama dalam Memelihara Rumah Bersama. Tema ini sejalan dengan Fokus Pastoral Keuskupan Pangkalpinang tahun 2026.
Dalam Sesi materi ini, beliau menyampaikan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak lepas dari terganggunya keseimbangan ekologi. Menurutnya, langkah paling mendasar adalah mengembalikan hukum-hukum alam agar kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Sesi ke II diisi oleh Dr. Ir. Ismed Inonu, M.Si., Dosen Universitas Bangka Belitung
“Yang pertama adalah kita harus mengembalikan hukum-hukum alam. Siklus-siklus yang seharusnya terjadi itu menjadi pulih dan normal kembali, sehingga lingkungan bisa kembali memberikan jasa-jasa ekosistem kepada manusia,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap persoalan lingkungan memiliki solusi yang spesifik. Jika siklus hidrologi terganggu, maka vegetasi perlu dipulihkan. Jika sungai mengalami pendangkalan, maka normalisasi harus dilakukan. Ketika siklus alam kembali berjalan, manusia pun dapat hidup berdampingan secara aman dengan alam.

Dr. Ir. Ismed Inonu, M.Si., bersama Bapa Uskup Adrianus, Romo Vikjen dan Romo Samuel sebagai Moderator
“Banyak bencana dan krisis terjadi karena alam terganggu dan tidak bisa menjalankan fungsi-fungsi ekosistemnya. Intinya di sana,” tegasnya.
Saat ditemui tim Berkatnews dan Komsos Pangkalpinang, Ismed juga menyampaikan pesan khusus bagi para imam dan pemuka agama dalam merawat bumi Serumpun Sebalai. Menurutnya, peran mereka sangat strategis, baik sebagai individu maupun sebagai figur publik yang didengar umat.
“Yang pertama sebagai individu adalah memberi contoh dan teladan. Kepedulian terhadap sampah, tanaman, dan lingkungan itu harus nyata, supaya umat bisa melihat dan meniru,” ungkapnya.
Selain keteladanan, ia menilai pewartaan juga menjadi sarana penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Pesan lingkungan dapat disampaikan melalui kotbah dan pencerahan rohani, dengan memasukkan nilai-nilai Kitab Suci agar lebih menyentuh hati umat.
“Lingkungan ini bukan hanya milik kita. Ini bukan warisan dari nenek moyang, tetapi titipan untuk anak cucu. Kalau titipan, harus dijaga. Anugerah Tuhan atas alam tidak boleh kita rusak, tetapi harus kita pelihara,” jelasnya.
Diharapkan melalui pembekalan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ini, Bapa Uskup serta para imam Keuskupan Pangkalpinang bisa memiliki landasan pengetahuan yang kuat saat mengedukasi umat, sehingga pesan tentang menjaga lingkungan menjadi meyakinkan. (Vsh)
