Pangkalpinang, Berkatnews.com — Mengawali tahun pelayanan 2026, para imam Kevikepan Selatan kembali berkumpul dalam pertemuan rutin yang digelar selama dua hari, 10–11 Maret 2026, di Rumah Retret Puri Sadhana.
Di hari pertama, agenda difokuskan pada rekoleksi dan sharing yang dibagi dalam beberapa kelompok. Sesi ini diawali dengan pengantar refleksi yang disampaikan oleh Romo Fransiskus Paskalis Maing, yang akrab disapa Romo Franki.

Romo Franki berikan pengantar sebelum memulai sesi sharing dalam kelompok
Tema yang didalami dalam sharing hari pertama adalah Berpartisipasi dalam Persahabatan dengan Yesus. Dalam pengantarnya, Romo Franki mengajak para imam kembali melihat Yesus sebagai sahabat sejati, sebagaimana digambarkan dalam Injil Yohanes 15:13–17. Yesus, menurutnya, memberikan teladan tertinggi tentang persahabatan melalui kasih yang rela berkorban.
Pengantar refleksi tersebut menegaskan bahwa persahabatan dengan Yesus diterima sejak Baptisan dan diteguhkan melalui Sakramen Krisma. Melalui penguatan Roh Kudus, para sahabat Kristus dipanggil untuk ambil bagian dalam misi-Nya dan mewujudkan persahabatan itu dalam praktik hidup sehari-hari.
Dari pengantar tersebut, para imam kemudian diajak masuk dalam refleksi pribadi yang dirumuskan dalam empat pertanyaan pokok:

Sesi refleksi dan sharing para imam dalam kelompok
Apakah Yesus menjadikan para imam sebagai sahabat-Nya melalui Sakramen Imamat, bagaimana imam membela cita-cita Yesus, sejauh mana imam ambil bagian dalam kepentingan dan keprihatinan-Nya, serta bagaimana memperbarui persahabatan dengan Yesus saat gagal terlibat dalam kepentingan dan keprihatinan-Nya.
Salah satu imam yang baru ditahbiskan lima bulan lalu dan kini bertugas di Paroki Toboali, Romo Titus, membagikan sharingnya mengenai pendekatannya sebagai sahabat dengan Yesus.
“Menurut saya, persahabatan dengan Yesus didasarkan pada kasih-Nya yang rela berkorban. Kasih itu memanggil kita untuk hidup sejalan dengan-Nya dalam melaksanakan misi pewartaan di tengah dunia,” ungkapnya.
Sharing para imam lainnya ada yang memaknai persahabatan dengan Yesus dengan mengikuti jejak-Nya sebagai seorang migran. Dalam pengalaman menjadi orang yang terbuang atau tidak memiliki tempat, para imam menemukan kekuatan pada Yesus yang juga mengalami kehidupan sebagai seorang migran.
Kekuatan pelayanan, menurut mereka, bersumber dan berpuncak pada relasi yang erat, dan hubungan dekat dengan Tuhan Yesus. Kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan sebagai manusia tidak meniadakan persahabatan itu, justru meneguhkannya.
“Sebagai imam, saya manusia yang punya dosa dan kecenderungan untuk salah. Tetapi dalam pengalaman saya bersahabat dengan Yesus, ketika ada apa-apa, saya mencari Yesus,” ungkap salah satu imam
Pertemuan para imam Kevikepan Selatan ini dilanjutkan pada hari kedua dengan agenda hari studi atau pendalaman dokumen, sebagai kelanjutan dari proses refleksi dan pembaruan pelayanan di awal tahun 2026. (Vsh)
