BerkatNews.com – Bayangkan sebuah kontras yang tajam ini: Di dalam gereja, kita baru saja berlutut dengan khusyuk, menyanyikan lagu pujian yang megah, dan menyambut Tubuh Kristus yang kudus. Namun, begitu melangkah ke tempat parkir atau halaman gereja, suasana batin itu mendadak menguap. Lidah yang baru saja menyambut Tuhan, tiba-tiba sibuk mengomentari homili romo yang dianggap terlalu panjang, misdinar yang salah melangkah, atau paduan suara yang nadanya sumbang.
Mengapa apa yang terjadi di altar sering kali langsung terputus begitu kita melewati pintu keluar gereja? Fenomena “umat kritikus” ini menunjukkan adanya jurang pemisah antara iman yang dirayakan di dalam gereja dan hidup yang dijalani di luar gereja.
Untuk membenahi hal ini, mari kita merenung bersama melalui panduan sebuah dokumen indah dari Gereja kita: Anjuran Apostolik Sacramentum Caritatis (Misteri Kasih) yang dikeluarkan oleh Paus Benediktus XVI.
1. Ekaristi: Misteri yang Harus Diimani, Bukan Dinilai (Sacramentum Caritatis Art. 6)
Dalam dokumen ini, Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Ekaristi bukanlah sebuah tradisi buatan manusia yang bisa kita nilai layaknya sebuah pertunjukan seni. Ekaristi adalah “kado kasih” yang cuma-cuma dari Allah sendiri.
Ketika kita datang ke gereja hanya dengan mentalitas “memenuhi kewajiban hari Minggu”, kita memposisikan diri sebagai penonton. Sebagai penonton, kita menuntut kepuasan ego kita: liturginya harus sempurna, musiknya harus menghibur, dan khotbah romonya harus menyenangkan telinga. Jika ada petugas yang salah atau homili romo terasa menegur kedosaan kita, kita langsung merasa tidak nyaman dan mulai menghakimi.
Padahal, jika kita datang dengan dasar kerinduan dan iman yang hidup, kita akan menyadari bahwa Kristus sendiri yang hadir di sana. Petugas liturgi hanyalah manusia rapuh yang sedang mempersembahkan talenta mereka. Fokus kita bukan lagi pada “siapa yang melayani”, melainkan pada “Siapa yang sedang kita sambut”.
2. Keindahan Liturgi yang Mengubah Batin (Sacramentum Caritatis Art. 35)
Dokumen ini juga membahas tentang keindahan liturgi (ars celebrandi). Keindahan dalam perayaan Ekaristi itu penting, tetapi keindahan sejati bukanlah soal penampilan luar yang tanpa cacat cela. Keindahan liturgi bertujuan untuk membawa umat masuk ke dalam misteri Allah.
Ketika kita disibukkan oleh komentar-komentar negatif tentang jalannya misa, batin kita sebenarnya sedang tertutup dari rahmat Tuhan. Homili seorang imam, sekecil atau sesederhana apa pun kelihatannya, adalah sarana Tuhan untuk menyentuh hati kita. Sering kali, rasa “tersindir” saat mendengar homili bukanlah tanda bahwa romo sedang menyerang kita, melainkan tanda bahwa Roh Kudus sedang mengetuk pintu hati kita yang bebal agar kita bertobat. Hati yang rindu akan Tuhan akan menangkap teguran itu sebagai bentuk kasih-Nya, bukan sebagai bahan gunjingan setelah misa selesai.
3. Dari Altar Menuju Jalanan: Mengubah Hidup Menjadi Ekaristis (Sacramentum Caritatis Art. 84 & 94)
Ini adalah bagian paling krusial yang menantang kita semua. Paus Benediktus XVI menegaskan dalam Artikel 84 bahwa ada hubungan erat antara Ekaristi dan perutusan kita di dunia. Ekaristi yang kita terima di dalam gereja harus menggerakkan kita untuk mengubah cara hidup kita sehari-hari.
Jika di dalam misa kita mengalami bagaimana Yesus mengosongkan diri-Nya dan mengampuni kita, maka begitu keluar dari gereja, kita harus menjadi pribadi yang penuh pengampunan, damai, dan kasih. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan jika pribadi yang baru saja disatukan dengan Kristus melalui Komuni Kudus, justru menjadi motor gosip dan kritik tajam di halaman gereja.
Dalam Artikel 94, dokumen ini menyatakan hal yang sangat mendalam:
“Ekaristi adalah akar dari setiap bentuk kesucian.”
Mengaku diri sebagai orang Katolik yang rajin ke gereja tidak diukur dari seberapa sering kita hadir secara fisik, melainkan dari seberapa ramah, sabar, dan penuh kasihnya kita setelah misa itu selesai. Kesucian kita diuji di tempat parkir, di dalam mobil saat macet pulang gereja, di dalam keluarga, dan di tempat kerja kita masing-masing.
4. Menyelaraskan Kembali Hati Kita
Melalui Sacramentum Caritatis, Gereja mengajak kita untuk tidak berhenti pada rutinitas lahiriah semata. Mari kita ubah cara kita memandang Perayaan Ekaristi.
Sebelum berangkat ke gereja, mari kita tata hati terlebih dahulu dari rumah. Katakan pada diri sendiri, “Hari ini aku mau pulang membawa Kristus, bukan membawa cerita atau komentar negatif.” Jadikan momen melangkah keluar dari gereja sebagai awal mula dari Misa yang nyata: yaitu hidup kita yang dipecah-pecah dan dibagikan sebagai berkat bagi sesama.
