Vatican, Berkatnews.com – Kantor Pers Takhta Suci mengumumkan Perjalanan Apostolik Paus Leo XIV yang akan datang: sepuluh hari di Afrika, mencakup Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa pada bulan April; satu hari di Kepangeranan Monako pada akhir Maret; serta enam hari di Spanyol, meliputi Madrid, Barcelona, dan Kepulauan Canary pada bulan Juni.
Sumber Vatican News, 25 Februari 2026
Paus Leo XIV akan melakukan satu Perjalanan Apostolik selama sepuluh hari ke Afrika serta dua perjalanan lainnya di Eropa, demikian diumumkan oleh Kantor Pers Takhta Suci pada hari Rabu.
Kunjungan pertama akan berupa perjalanan sehari ke Kepangeranan Monako pada akhir Maret, disusul Perjalanan ke Afrika pada bulan April, dan terakhir kunjungan enam hari ke Spanyol serta Kepulauan Canary pada bulan Juni.
Setelah perjalanan penting ke Turki dan Lebanon pada akhir tahun 2025 serta pengumuman kunjungan pastoral mendatang di Italia yang akan membawanya hingga ke Lampedusa, Paus Leo kembali melanjutkan ziarahnya ke berbagai penjuru dunia.
Afrika
Perjalanan terpanjang — dari 13 hingga 23 April — akan membuatnya mengikuti jejak Santo Agustinus di Aljazair, dengan mengunjungi Aljir dan Annaba; kemudian menuju Kamerun di Afrika Tengah dengan persinggahan di Yaoundé, Bamenda, dan Douala; selanjutnya ke Angola dengan kunjungan ke Luanda, Muxima, dan Saurimo; dan akhirnya ke Guinea Khatulistiwa dengan mengunjungi Malabo, Mongomo, dan Bata.
Perjalanan ini akan menjadi kunjungan yang kompleks, sekaligus ziarah mengenang santo dari Hippo, yang memiliki ikatan khusus dengan Penerus Petrus; serta menyentuh dua negara berkembang dengan perhatian khusus kepada kaum kecil, kaum miskin, dan mereka yang melayani sesama.
Selain itu, perjalanan ini akan berfokus pada perdamaian.
Paus Leo akan mengunjungi wilayah berbahasa Inggris di bagian utara Kamerun, di mana selama sepuluh tahun terakhir terjadi perang saudara antara angkatan bersenjata reguler dan kelompok separatis.
Tahap akhir perjalanan Afrika ini adalah Guinea Khatulistiwa, satu-satunya negara berbahasa Spanyol di Afrika.
Durasi kunjungan kepausan ini mendekati perjalanan Paus Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1985, ketika ia mengunjungi tujuh negara dalam 11 hari.
Kepangeranan Monako
Namun, perjalanan sehari yang singkat ke Kepangeranan Monako, yang dijadwalkan pada 28 Maret menjelang Pekan Suci, akan menjadi pembuka Perjalanan Apostolik Bapa Suci untuk paruh pertama tahun 2026.
Paus ingin menanggapi secara positif undangan berulang dari otoritas Monako, yang sebelumnya ditujukan kepada Paus Fransiskus dan kemudian kepada dirinya.
Kepangeranan ini merupakan sebuah realitas Eropa di mana Katolik adalah agama negara dan dialog antara lembaga sipil dan Gereja tetap menjadi hal penting dalam perdebatan publik.
Komitmen Monako terhadap perdamaian juga menjadi hal yang signifikan, dan negara ini akan menyambut seorang Paus untuk pertama kalinya di era modern.
Spanyol
Akhirnya, dari 6 hingga 12 Juni, Paus Leo akan mengunjungi Spanyol, pertama ke ibu kota Madrid dan kemudian ke Barcelona, di mana ia akan meresmikan menara terbaru dan tertinggi dari Sagrada Familia, basilika monumental yang telah mengubah cakrawala kota tersebut.
Kunjungan ini bertepatan dengan seratus tahun wafatnya Antoni Gaudí, arsitek brilian yang “memimpikan” basilika tersebut dengan memulai pembangunannya, dan yang tahun lalu dinyatakan sebagai Hamba Allah yang Terhormat (Venerable).
Melanjutkan perjalanannya di Spanyol, Bapa Suci akan menuju Kepulauan Canary, sebuah rencana yang sebelumnya juga menjadi perhatian mendiang Paus Fransiskus, sebagaimana ditegaskan oleh Uskup Agung Madrid, Kardinal José Cobo Cano, pada bulan Januari.
Selama di Kepulauan Canary, Paus akan mengunjungi Tenerife dan Gran Canaria.
Tujuan yang Beragam dan Penuh Makna
Melalui tiga Perjalanan Apostolik ini, Paus Leo akan berkesempatan bertemu dengan berbagai negara dan situasi yang berbeda.
Ia akan berkunjung ke Aljazair, sebuah negara Muslim di mana umat Kristiani merupakan minoritas kecil dan benih persaudaraan; kemudian ke negara-negara dengan mayoritas Kristen di jantung benua Afrika, dengan segala tantangannya namun juga dengan kesaksian iman yang penuh sukacita.
Bapa Suci juga akan melakukan perjalanan singkat ke negara terkecil kedua di dunia setelah Kota Vatikan, yang terletak di Riviera Prancis; ke Spanyol, sebuah negara besar Eropa yang identitasnya dibentuk oleh iman Kristiani namun juga dipengaruhi sekularisasi; dan akhirnya menutup Perjalanan Apostolik di Kepulauan Canary, salah satu jalur migrasi utama dari Afrika menuju Eropa, dengan puluhan ribu kedatangan setiap tahun (martin da silva, pr)

