Home GEREJA Pasutri Kevikepan Selatan Diajak Kembali Melihat Peran Keluarga Dalam Mendidik Anak

Pasutri Kevikepan Selatan Diajak Kembali Melihat Peran Keluarga Dalam Mendidik Anak

by Veronika Suci Handayani

PANGKALPINANG, Berkatnews.com– Komisi Keluarga Keuskupan Pangkalpinang menggelar kegiatan pembinaan pola asuh dalam keluarga bagi pasangan suami istri (pasutri) perwakilan paroki se-Kevikepan Selatan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 7–9 Agustus 2026, di Puri Sadhana.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pasutri untuk bersama-sama mendalami peran orang tua dalam mendampingi dan mendidik anak, termasuk menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Perayaan Ekatisti Pembukaan kegiatan

Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Pangkalpinang, Romo Antonius Moa Tolipung, bersama Ketua Komisi Keluarga, Romo Lukas.

Dalam homilinya, Romo Anton mengajak para suami dan istri untuk memaknai penderitaan dalam kehidupan keluarga bukan sebagai malapetaka, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup dan kesetiaan dalam perkawinan.

Homili disampaikan Romo Antonius Moa Tolipung

“Maka dari sini kita belajar, suami dan istri belajar bahwa penderitaan itu bukan sebuah malapetaka. Tapi penderitaan itu adalah sebuah jalan salib yang menjadi kuncinya bagi kita. Apakah kita sebagai suami istri itu setia di dalam penderitaan. Tanpa salib tidak ada kebahagiaan. Karena di dalam salib Tuhan, suami dan istri tahu apa artinya menderita karena apa, berkorban. Menderita dulu baru mengalami kebahagiaan,” ungkap Romo Anton.

Usai Perayaan Ekaristi, Romo Anton memberikan sesi sebagai arahan berfokus pada Keluarga Mendidik Anak di Tengah Revolusi Digital, Artificial Intelligence (AI): Peluang dan Tantangannya” dengan mengacu pada Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV.

Sesi 1 arahan dari Romo Anton

Dalam sesi tersebut, Romo Anton mengingatkan agar keluarga jangan takut terhadap teknologi, tetapi juga jangan sampai dikuasai oleh teknologi. Pola asuh perlu memiliki kerangka moral dan spiritual dengan landasan martabat manusia dan prinsip sosial.

Para pasutri ini diajak merefleksikan senuah pertanyaan: Bagaimana keluarga mendidik anak di tengah revolusi digital dan AI? Apa peluang dan tantangannya?

Sesi tanya jawab

Revolusi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan berelasi. Di sisi lain, teknologi membuka peluang bagi pendidikan, komunikasi, dan kreativitas anak.

Karena itu, keluarga menjadi medan pertama dan utama bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang utuh. Anak tidak hanya dibentuk menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pribadi yang beriman, berakal budi, dan berhati nurani. Keluarga menjadi tempat pertama di mana wajah manusia dibentuk melalui kasih, iman, dan tanggung jawab.

Pada sesi berikutnya, Romo Lukas memberikan materi mengenai Parenting atau pola asuh. Materi ini membahas cara orang tua mengasuh anak dengan tujuan mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual.

Romo Lukas mengiatkan juga bagi para pasutri bahwa ucapan, cara merasa, cara berpikir, cara bertindak, sifat, kebiasaan, watak, kepribadian, dan cara hidup seseorang sesungguhnya mencerminkan pendidikan yang diterima anak dari dalam keluarga.

Kegiatan berlangsung hingga haari minggu nanti, para Pasutri akan diajak semakin menyadari peran keluarga mendampingi pertumbuhan anak dan membangun pola asuh yang sesuai dengan tantangan kehidupan keluarga saat ini. (Vsh)

Para pasutri Komisi Keluarga Keuskupan Pangkalpinang

Related Articles

Leave a Comment

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi