Home Participatory ChurchChristus Center Renungan Minggu Adven III, Tidak Alasan Bagi Orang Yang Bertobat Untuk Tidak Bersukacita

Renungan Minggu Adven III, Tidak Alasan Bagi Orang Yang Bertobat Untuk Tidak Bersukacita

by Stefan Kelen

RD Stanis Bani

Karakter manusia adalah, mahluk yang bersuka cita.  Artinya bahwa sebagai manusia kita sesungguhnya adalah orang-orang yang selalu bergembira. Baik dalam alasan sederhana, seperti bisa bangun pagi hari dengan segar. Atau bisa saja karena alasan yang lebih menggiurkan seperti, mendapatkan keuntungan besar dalam sebuah proyek.

Namun terkadang manusia cendrung untuk tidak bergembira karena persoalan hidup yang dihadapinya dari pada bergembira karena dapat menyelesaikan semua persoalan itu.

Kita semua dipanggil oleh kasih karunia Allah untuk menjadi orang-orang yang bersuka cita karena kita dimampuhkan untuk dapat mengalahkan semua rasa sakit dan menang atas semua kegagalan kita.

Minggu adven III ini mengarahkan kita pada realitas bahwa kita adalah orang-orang yang bersuka cita, bahkan warta sukacita itu kita terima, kita alami saat kita sedang mempersiakan diri di masa Adven ini. Jika kita merenungkan Sabda Tuhan pada Minggu adven III ini menegaskan kepada kita alasan mengapa kita harus bersuka cita.

Sabda Tuhan dalam Zefanya 3:14-18a, berisi penghiburan kepada penduduk kota Yerusalem yang ketika itu hanya tinggal reruntuhan belaka akibat penyerbuan Nebukadnezar (ayat 13). Malapetaka ini dipahami sebagai hukuman bagi kelakuan buruk umat sendiri, pengkianatan dan ketidaksetian mereka. Inilah yang menjadi penyebab kehancuran dan kesengsaraan mereka.

ilustrasi

Namun di balik itu ada warta gembira yang disampaikan kepada umat bahwa keadaan sudah berubah. Tuhan kini berbalik mengasihani umat-Nya dan berjanji akan berada kembali di tengah-tengah mereka. Ia akan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai.

Yerusalem dan penduduknya diingatkan agar tidak lagi bersedih, kebesarannya sebagai bangsa akan pulih. Semua janji ini hanya terjadi karena komitmen Allah yang mau mengasihi manusia.  Kasih Allah yang luar biasa besar inilah yang menjadi alasan mengapa kita harus bersuka cita.

Dia mencintai kita dan mau tinggal bersama-sama kita. Allah yang ada di tengah-tengah kita, yang kita rasakan kehadiraNya itulah “Emanuel”.  Oleh karena itu, tidak ada lagi alasan untuk kita bersedih karena semua kemalangan kita

Bersuka cita tetaplah harus dijalani apapun situasi yang kita hadapi. Dalam Flp 4:4-7 kita memahami bahwa ada berbagai kesulitan yang dialami gereja di Filipi yang membuat mereka kurang bersukacita. Sering kali kekuatiran baik tentang kehidupan pribadi maupun bersama, baik dalam masayrakat atau dalam Gereja memang bisa membuat kesukaan dalam hidup. Tetapi Rasul Paulus mengingatkan bahwa alasan orang Kristen bersuka cita adalah karena kita berasal dari Tuhan (ayat 4).

Sukacita kita berasal dari Tuhan. Tetapi sering kali dengan membiarkan kondisi sukar atau kesulian, derita dan kehilangan bisa mempengaruhi sikap orang Kristen terhadap komitmen “bersuka cita”.  Paulus meminta agar orang Kristen di Filipi secara aktif menyatakan kebaikan hati mereka (ayat 5 ) karena sebagai pribadi yang selalu berada “dalam Tuhan” orang Kristen memiliki sukacita dan damai sejahtera.

Sukacita ini tidak boleh dihayati oleh orang Kristen secara pasif atau hanya dinikmati oleh diri sendiri semata, tetapi harus dibagikan kepada sesama. Keaktifan membangun suka cita terwujud melalui doa, maka relasi dengan Tuhan itu menjadi komunikasi yang hidup dan hangat dan tentu saja menggembirakan. Jika kita berada dalam Tuhan maka kekuatiran, kecemasan dan ketakutan tak beroleh tempat sebab damai dan sukacita Allah sendiri penuh dalam hati orang percaya (ayat 4-7).

Jadi, alasan kita bersukacita menurut Paulus adalah karena kita berada dalam Tuhan. Komitmen kita untuk terus berada dalam Tuhan, kita lakukan melalui doa dan ucapan syukur. Dalam doa, semua yang menghalangi kita dalam memperoleh suka cita menjadi sirnah.

Alasan berikutnya mengapa kita harus bersukacita adalah karena kita telah bertobat. Tobat adalah kesadaran bahwa kita dikasihi dan dicintai Allah. Bertobat juga berarti menyesali sungguh-sungguh perbuatan dosa dan berpaling untuk menjalani hidup yang sama sekali baru. Awal pertobatan dimulai dari hati dan terwujud pada tindakan dan perbuatan. Ada banyak pengalaman yang mengungkapkan bahwa melalui pertobatan orang dapat mengalami damai sejahterah dan bersuka cita.

Romo Stanis Bani bersama imam-imam lain

Hari ini kita mendengaar seruan pertobatan yang disampaikan Yohanes Pembaptis begitu tegas dan keras (7-9).  Roh Kudus (Yoh. 16:8) yang bekerja dalam diri Yohanes Pembabtis menggerakan hati banyak orang  sehingga seruan pertobatan itu mengena di hati orang-orang yang mendengarnya.

Jika kita renungkan Injil  hari ini kita temukan bahwa ada tiga kelompok orang yang menanggapi seruan Yohanes Pembabtis ini  dengan cara yang berbeda (10-14). Hal ini membuktikan bahwa anugerah Tuhan bekerja di antara mereka juga dengan cara yang berbeda.

Kepada orang banyak Yohanes pembabtis mengatakan “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (3:12).

Seruan ini adalah wujud dari pertobatan sejati. Kepada para pemungut cukai Yohanes berkata “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”( 3:14) Tobat di sini artinya berbalik dari perbuatan salah kepada perbuatan baik, cukup dengan apa yang menjadi bagianmu. Kepada para prajurit Yohanes dengan tegas mengatakan “ Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (3:15)

Pertobatan adalah kesediaan merubah perilaku, yang tadinya berpusat pada diri sendiri menjadi berpusat kepada Allah, inilah bukti nyata pertobatan. Jadi perrtobatan tidak hanya berhenti pada bilik pengakuan dosa saja tetapi nyata dalam perubahan prilaku.  Maka pertanyaan masing-masing kelompok, “Apa yang harus kami perbuat?” adalah doa pertobatan kepada Allah. Jawaban Yohanes mengarahkan mereka kepada perubahan sikap: peduli kepada sesama (11) serta menahan diri dari penyalahgunaan kuasa (13, 14).

Minggu Adven ke tiga ini membawa kita untuk lebih dekat dengan Tuhan yang kita naantikan. Kita menyambutnya dengan penuh suka cita karena kita percaya akan penyertaanNya dalam diri Yesus Kristus “sang Imanuel”, Dia makin dekat karena kita kenal Dia dalam doa dan ucapan syukur kita. Lebih dari itu kita bersuka cita karena Dia memampukan kita untuk bertobat. (***)

RD Stanis Bani, adalah imam Diosesan Pangkalpinang. Sekarang bertugas sebagai Rektor Seminari Menengah Mario Jhn Boen Pangkalpinang

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.