AIR SEMUT, Berkatnews.com – Sebanyak 44 umat dari tiga stasi di Paroki Santa Maria Assumpta Toboali mengikuti pembekalan lektor, lektris, dan pemazmur yang digelar Seksi Liturgi Paroki Santa Maria Assumpta Toboali, Minggu, 9 Juli 2026, di Stasi Santo Petrus Air Semut.
Peserta merupakan perwakilan dari Stasi Santa Elisabet Kampung Baru, Stasi Santo Petrus Air Semut, dan Stasi Santo Emanuel Batu Betumpang. Kegiatan ini dihadiri RP. Titus Unagolok, SS.CC., selaku Pastor Rekan, Koordinator Seksi Liturgi Paroki beserta anggota.
Kegiatan dipandu oleh Ibu Nining selaku Koordinator Seksi Liturgi Paroki Santa Maria Assumpta Toboali. Setelah doa yang dipimpin Bu Banjar, umat Stasi Batu Betumpang, kegiatan dilanjutkan dengan pengantar dari RP. Titus Unagolok, SS.CC., yang mewakili Pastor Paroki, RP. Baltasar Mili, SS.CC.
Dalam pengantarnya, RP. Titus menegaskan bahwa pelayanan lektor, lektris, dan pemazmur bukan sekadar membaca atau bernyanyi di hadapan umat, tetapi merupakan tugas suci sebagai pewarta Sabda Allah.
“Pelayanan seorang lektor, lektris, dan pemazmur bukan sekadar tampil membaca atau bernyanyi di depan umat, melainkan tugas suci sebagai pewarta Sabda Allah. Persiapan batin, pemahaman teks yang mendalam, serta penyampaian penuh ketulusan dan penghayatan sangat dibutuhkan agar umat dapat mendengarkan serta menghayati Sabda Tuhan dengan penuh iman,” ungkapnya.

Pembekalan materi oleh Suster Grace
Pembekalan kemudian dilanjutkan oleh Suster Grace, PRR., dari Tim Seksi Liturgi Paroki Santa Maria Assumpta Toboali. Ia mengajak peserta untuk kembali merenungkan panggilan pribadi sebagai lektor dan lektris.
Menurut Suster Grace, spiritualitas seorang lektor dan lektris berakar pada kesadaran bahwa dirinya dipanggil menjadi penyambung lidah Sabda Tuhan. Karena itu, tugas tersebut tidak berhenti pada membacakan teks Kitab Suci, tetapi menghadirkan Sabda Allah agar dapat menyentuh hati umat.

Ia juga mengingatkan bahwa pelayanan seorang lektor dan lektris mencakup keterlibatan dalam seluruh rangkaian liturgi. Pelayanan tidak berhenti setelah selesai membacakan bacaan, tetapi diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam keseluruhan perayaan Ekaristi sebagai bentuk penghormatan terhadap Sabda yang diwartakan.
Lebih lanjut, Suster Grace menjelaskan bahwa seorang lektor dan lektris membutuhkan persiapan teknis dan spiritual. Sikap dalam menjalankan tugas, mulai dari cara berpakaian yang pantas, membawa Kitab Suci dengan hormat, hingga penguasaan artikulasi dan intonasi, menjadi bagian dari pelayanan yang perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Selain itu, syarat utama menjadi lektor dan lektris adalah telah menerima Sakramen Inisiasi, yakni Baptis, Ekaristi, dan Penguatan, serta tidak berada dalam halangan Gereja maupun menjadi batu sandungan bagi umat.

Seorang lektor dan lektris juga perlu memiliki kemampuan membaca dengan baik, memahami isi bacaan, kemauan untuk terus belajar dan berlatih, serta kerendahan hati menerima masukan sebagai bagian dari proses pembinaan.
Pembekalan turut membahas keterampilan teknis seperti intonasi, tekanan suara, tempo, jeda, dan pelafalan yang tepat. Persiapan batin, pemahaman terhadap isi Kitab Suci, latihan berkesinambungan, serta keterbukaan untuk terus berkembang juga menjadi bagian penting dalam mewartakan Sabda Allah secara hidup dan bermakna.
Sementara itu, Saudara Stenislaus Angga memberikan pembekalan mengenai pelayanan pemazmur. Ia menegaskan bahwa pemazmur bukan sekadar bertugas menyanyikan Mazmur Tanggapan, tetapi mengambil bagian dalam pelayanan Sabda melalui doa dan nyanyian.
Menurutnya, seorang pemazmur membutuhkan pemahaman terhadap makna dan bentuk Mazmur, kemampuan vokal yang baik, kesiapan batin, serta sikap yang sesuai dengan tugas liturgis.
“Melalui pembekalan ini, para pemazmur diharapkan semakin memahami perannya dan mampu melaksanakan pelayanan dengan baik, khidmat, dan penuh kerendahan hati, sehingga nyanyian yang dibawakan sungguh menjadi doa bersama seluruh umat,” jelasnya.
Melalui pembekalan yang berkesinambungan, para lektor, lektris, dan pemazmur di setiap stasi diharapkan semakin bertumbuh dalam semangat pelayanan, terampil mewartakan Sabda Tuhan, serta memuji Tuhan melalui nyanyian mazmur.
Pembekalan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para pelayan liturgi untuk kembali memperkaya diri agar mampu menjalankan tugas sesuai semangat dan ketentuan liturgi Gereja.
Penulis : Rm Titus / Edit : Vsh
