Pangkalpinang. Berkatnews.com – Peringatan Hari Bumi Sedunia setiap 22 April menjadi pengingat pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Semangat itulah yang mengalir dalam hari kedua pertemuan para Imam Keuskupan Pangkalpinang, ketika sesi materi diarahkan pada praktik nyata merawat lingkungan hidup, Rabu (22/4/2026).
Dalam momen Hari Bumi Sedunia ini diisi melalui materi Praktisi/Pegiat Lingkungan Hidup: Motivasi, Tindakan, Jejaring, Peluang–Tantangan yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Care dengan empat orang pegiat lingkungan.

Benda hasil pengelolaan daur ulang di berikan kepada Bapa Uskup Adrianus
Para imam diajak melihat secara langsung bagaimana kepedulian terhadap alam dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
Dalam sesi tersebut, para pegiat Bumi Care membagikan pengalaman mereka mengolah barang bekas menjadi benda yang kembali bermanfaat. Dari proses ini, lahir sukacita sekaligus tujuan bersama, yakni menghidupkan Sungai Rangkui sebagai ruang berkumpul dan ruang hidup yang memberi alasan bagi masyarakat untuk kembali peduli, termasuk melalui pengolahan ekoenzim.

Komunitas Care Bumi bersama Bapa Uskup, Romo Anton dan Romo Martin
Selain berbagi pengalaman, komunitas ini juga menyoroti tantangan dalam mengajak kaum muda terlibat merawat rumah bersama. Upaya belajar dan mencintai alam sejak dini, serta mendalami dokumen Laudato Si’, menjadi tantangan sekaligus peluang agar kepedulian lingkungan dapat dipahami dan dihidupi oleh generasi muda.
Koordinator Community Care Bumi, Teresa Ling Na Mie, menyampaikan peran yang bisa diambil para imam dalam menggerakkan umat untuk merawat Rumah Bersama.
“Kita semua tahu para romo pasti sudah paham tentang lingkungan hidup dan bagaimana kita perlu menjaga dan merawat bumi. Tantangan kita bersama adalah bagaimana menggerakkan umat,” ujarnya saat ditemui tim Berkatnews.com.
Ia menyampaikan bahwa ajakan sederhana melalui grup WhatsApp paroki maupun KBG dapat menjadi langkah awal yang kuat. Dengan melibatkan seksi lingkungan hidup di paroki, gerakan kepedulian akan lebih terasa.
“Umat sebenarnya sudah bergerak masing-masing, tetapi sering kali mereka butuh teman, butuh komunitas. Dukungan para romo, bahkan lewat satu ajakan singkat, sudah sangat luar biasa,” lanjutnya.
Sejalan dengan materi ini, sebelumnya Bapa Uskup Adrianus Sunarko, OFM mengingatkan bahwa dalam membangun Gereja yang sinodal, umat diajak semakin peka terhadap mereka yang jarang diperhatikan. Dari kesadaran itu, Gereja dipanggil untuk melangkah lebih jauh tidak hanya peduli, tetapi juga berani mengambil tindakan nyata.
Pada sesi ini , Bapa Uskup menyampaikan keprihatinan yang sama dan berharap karya Komunitas Bumi Care dapat diperluas, termasuk membuka kemungkinan kerja sama antar lintas agama.(Vsh)
