Sibolga,Berkatnws.com – Memasuki hari kedua pelaksanaan Jambore Seminari Menengah Se-Sumatera 2026 di Seminari Menengah St. Petrus Aek Tolang, Sibolga, para seminaris diajak untuk semakin mendalami makna persaudaraan sebagai dasar kehidupan panggilan. Melalui berbagai kegiatan pembinaan dan dinamika kelompok, para peserta tidak hanya mempererat relasi satu sama lain, tetapi juga diajak untuk semakin peka terhadap realitas kehidupan dan lingkungan di sekitar mereka.
Kegiatan hari kedua diawali dengan sesi pembekalan yang dibawakan oleh Pastor Prian, Ketua Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Regio Sumatera. Dalam materinya, Pastor Prian mengajak para seminaris untuk menyadari bahwa mereka dipanggil menjadi satu keluarga besar dalam Kristus. Persaudaraan, menurutnya, bukan sekadar kebersamaan karena berada dalam lembaga yang sama, melainkan sebuah panggilan untuk hidup saling menerima, mendukung, dan bertumbuh bersama.

SesI pembekalan oleh Pastor Prian , Ketua Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Regio Sumatera
Beliau menegaskan bahwa persaudaraan yang sejati harus berakar dalam Kristus. Dari Kristuslah setiap seminaris belajar untuk mencintai, mengampuni, dan menghargai sesama. Untuk membangun persaudaraan yang kokoh, diperlukan kemampuan berdialog, yaitu kesediaan untuk mendengarkan, memahami, dan membuka diri terhadap orang lain. Dialog menjadi sarana penting untuk membangun kebersamaan di tengah berbagai perbedaan latar belakang, budaya, maupun karakter yang dimiliki para seminaris dari berbagai keuskupan di Sumatera.
Setelah sesi materi, para peserta memperoleh kesempatan mendengarkan kesaksian yang menyentuh dari orang tua seminaris. Pada kesempatan tersebut, orang tua Anicetus dari Seminari Menengah Sibolga membagikan pengalaman mereka sejak putranya memutuskan untuk masuk seminari.
Dengan penuh haru, sang ibu mengisahkan bahwa pada awalnya terdapat rasa sedih dan keraguan ketika harus melepas anaknya masuk seminari. Sebagai anak bungsu yang sangat dekat dengan keluarga, terutama dengan ibunya, Anicetus dinilai masih sangat bergantung pada orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi berdiialog bersama perwakilan orang tua dari Seminari Sibolga
Namun seiring berjalannya waktu, keluarga mulai menyaksikan berbagai perubahan positif yang terjadi dalam diri putra mereka. Kehidupan seminari telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Ia kini berani tampil di depan banyak orang, mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan lebih baik, serta menunjukkan perkembangan yang nyata dalam kehidupan doa maupun prestasi akademiknya.
Dalam pesannya kepada para seminaris yang hadir, orang tua Anicetus mengungkapkan rasa bangga dan syukur melihat begitu banyak generasi muda Gereja yang berani menjawab panggilan Tuhan. Mereka berharap kegiatan jambore ini menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan, saling belajar satu sama lain, dan bertumbuh bersama dalam iman.
“Jangan pernah menyerah dalam menjalani proses pembinaan. Teruslah belajar, berkembang, dan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup,” demikian pesan yang disampaikan kepada para seminaris.
Tidak lupa, apresiasi juga disampaikan kepada para formator dan pembina seminari yang selama ini mendampingi para seminaris. Orang tua Anicetus mengungkapkan rasa terima kasih atas dedikasi, perhatian, dan pengorbanan para pembina yang telah menjadi sosok ayah dan ibu bagi para seminaris selama menjalani masa pembinaan. Mereka berharap kerja sama yang baik antara keluarga dan seminari dapat terus terjalin demi perkembangan para calon imam di masa depan.
Salah satu kegiatan yang paling berkesan pada hari kedua Jambore Seminari Menengah Se-Sumatera 2026 adalah perjalanan reflektif menuju kawasan yang pernah terdampak bencana banjir dan tanah longsor di sekitar wilayah Sibolga. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi perjalanan fisik, tetapi juga sebuah pengalaman pembelajaran yang mengajak para seminaris untuk melihat secara langsung realitas kehidupan yang dihadapi masyarakat.

Pembagian Kelompok


Kegiatan reflektif kawasan yang pernah terdampak bencana banjir dan tanah longsor
Dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari peserta dari berbagai seminari, para seminaris berjalan bersama menyusuri jalan setapak menuju lokasi bencana. Sepanjang perjalanan, mereka diajak untuk berdinamika, saling mengenal, berbagi pengalaman hidup, serta merefleksikan panggilan mereka sebagai calon imam di tengah dunia yang penuh tantangan.
Sesampainya di lokasi, para peserta disuguhkan pemandangan yang mengundang keprihatinan. Bekas-bekas longsoran tanah masih terlihat jelas di beberapa titik. Reruntuhan bangunan dan rumah yang pernah menjadi tempat tinggal keluarga-keluarga setempat menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana yang pernah melanda wilayah tersebut. Alam yang rusak dan jejak penderitaan masyarakat yang terdampak menghadirkan suasana reflektif bagi para peserta.


Melalui pengalaman tersebut, para seminaris diajak untuk menyadari bahwa bencana alam bukan hanya persoalan kerusakan fisik, melainkan juga menyangkut kehidupan manusia yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan rasa aman. Mereka diajak untuk melihat bahwa di balik setiap peristiwa bencana terdapat kisah perjuangan, harapan, dan keteguhan hati masyarakat dalam bangkit kembali.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan ekologis bagi para seminaris. Para peserta diajak untuk merefleksikan hubungan antara manusia dan alam serta pentingnya menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Kerusakan alam yang terjadi akibat berbagai faktor menjadi pengingat bahwa manusia dipanggil untuk menjadi pengelola ciptaan yang bijaksana, bukan sekadar pengguna sumber daya alam.


Kelompok gabungan para Seminari se-Regio Sumatra
Dalam suasana hening dan reflektif, para seminaris merenungkan panggilan mereka sebagai calon imam yang tidak hanya bertugas mewartakan Injil melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menghadirkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Pengalaman melihat langsung dampak bencana menumbuhkan kesadaran bahwa pelayanan Gereja harus menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk upaya menjaga dan merawat bumi sebagai rumah bersama.
Perjalanan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para seminaris untuk membangun persaudaraan yang lebih erat. Di tengah medan perjalanan yang dilalui bersama, mereka belajar saling membantu, saling mendukung, dan berjalan bersama sebagai satu keluarga besar Seminari Regio Sumatera. Kebersamaan yang terjalin selama perjalanan menjadi gambaran nyata semangat sinodal, yakni berjalan bersama menuju tujuan yang sama dalam terang Kristus.
Melalui kegiatan ini, para seminaris diharapkan semakin memiliki hati yang peka terhadap penderitaan sesama, semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan, dan semakin siap menjadi pewarta harapan di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Pengalaman mengunjungi lokasi bencana bukan hanya menjadi kenangan selama jambore, tetapi juga menjadi pelajaran berharga yang akan membentuk cara pandang dan semangat pelayanan mereka di masa depan.
Penulis : (Rm Greg) Edit : (Vsh)
