SIBOLGA, Berkatnews.com – Rangkaian kegiatan Jambore Seminari Regio Sumatera 2026 resmi berakhir dalam suasana penuh syukur dan sukacita. Setelah berlangsung selama empat hari dengan berbagai kegiatan pembinaan, rekoleksi, rekreasi, dan pentas budaya, seluruh peserta akhirnya mengikuti Perayaan Ekaristi Penutupan sebagai puncak sekaligus peneguhan atas seluruh pengalaman yang telah mereka jalani bersama.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Ketua Komisi Seminari Regio Sumatera, Pastor Prian, imam Keuskupan Padang, dan diikuti oleh seluruh seminaris, formator, pendamping, serta tamu undangan dari berbagai seminari menengah di Regio Sumatera. Liturgi berlangsung dengan khidmat dan penuh penghayatan, menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang penyelenggaraan jambore sekaligus momentum pengutusan bagi para calon imam untuk kembali melanjutkan proses pembinaan di seminari masing-masing.
Dalam homilinya, Pastor Prian menegaskan bahwa Jambore Seminari bukan sekadar pertemuan tahunan atau ajang berkumpulnya para seminaris dari berbagai daerah. Lebih dari itu, jambore merupakan momentum berharga untuk membangun persaudaraan yang sejati di antara para calon imam yang kelak akan melayani Gereja di berbagai tempat.
“Selama beberapa hari ini kalian telah saling mengenal, saling berbagi pengalaman, saling mendoakan, dan saling mendukung dalam perjalanan panggilan. Inilah kekayaan yang harus terus dipelihara. Persaudaraan yang lahir di sini hendaknya tidak berhenti ketika jambore berakhir, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan kalian sebagai seminaris,” pesan Pastor Prian.
Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk membawa pulang pengalaman-pengalaman baik yang telah diperoleh selama jambore. Menurutnya, setiap seminaris dipanggil menjadi pembawa sukacita dan pewarta nilai-nilai persaudaraan di komunitasnya masing-masing.
“Ketika kembali ke seminari, jadilah saksi hidup. Wartakanlah hal-hal baik yang kalian alami selama jambore ini. Tunjukkan melalui sikap, perkataan, dan tindakan bahwa kalian telah bertumbuh dalam persaudaraan yang berakar dalam Kristus,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi peneguhan bagi seluruh peserta bahwa panggilan sebagai calon imam tidak hanya diwujudkan melalui kehidupan doa dan studi, tetapi juga melalui kemampuan membangun relasi yang baik, saling menguatkan, serta menjadi teladan bagi sesama. Pengalaman selama jambore diharapkan mampu membentuk karakter para seminaris agar semakin dewasa dalam hidup berkomunitas dan semakin siap menjawab panggilan Tuhan.
Perayaan Ekaristi penutupan berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Nyanyian liturgi yang dibawakan oleh para seminaris semakin memperdalam suasana doa. Dalam setiap bagian liturgi, tampak semangat persaudaraan yang telah terjalin selama beberapa hari terakhir. Meskipun berasal dari berbagai daerah, suku, dan budaya, seluruh peserta dipersatukan oleh iman yang sama serta cita-cita yang sama, yakni mempersiapkan diri menjadi pelayan Gereja di masa depan.
Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan seremoni penutupan jambore. Pada kesempatan tersebut, panitia menyerahkan cenderamata berupa ulos kepada para rektor atau perwakilan rektor dari setiap seminari yang hadir. Ulos dipilih bukan sekadar sebagai buah tangan, melainkan sebagai simbol penghormatan, persaudaraan, dan kasih yang erat dalam budaya Batak.

Pemberian kain ulos pada perwakilan rektor dari setiap seminari yang hadir

Penyerahan ulos menjadi ungkapan terima kasih atas kehadiran, partisipasi, dan dukungan seluruh seminari yang telah menyukseskan penyelenggaraan Jambore Seminari Regio Sumatera 2026. Balutan kain ulos yang disematkan kepada para tamu mencerminkan harapan agar ikatan persaudaraan yang telah terjalin selama jambore tetap terpelihara, meskipun para peserta nantinya kembali ke daerah dan seminari masing-masing.
Selama empat hari pelaksanaan jambore, para seminaris mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan seluruh aspek kehidupan formasi. Mulai dari pendalaman iman, materi pembinaan, kegiatan rekreasi, aksi sosial, hingga malam budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi dari berbagai daerah di Sumatera. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi sarana pembelajaran yang memperkaya pengalaman hidup para seminaris sekaligus mempererat persaudaraan lintas keuskupan.

Foto bersama Seminari Menengah Mario John Boen
Jambore Seminari Regio Sumatera tahun 2026 mengusung semangat agar setiap calon imam tetap berakar dalam Kristus, berkembang dalam persaudaraan, dan siap diutus. Tema tersebut tidak hanya menjadi slogan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga menjadi arah pembinaan yang diharapkan terus hidup dalam keseharian para seminaris.
Berakar dalam Kristus berarti membangun kehidupan yang kokoh melalui doa, Sabda Allah, dan perayaan sakramen. Berkembang dalam persaudaraan mengajak setiap seminaris untuk hidup dalam kasih, saling menghargai, dan membangun komunitas yang sehat. Sementara itu, siap diutus menjadi panggilan bagi setiap calon imam untuk memiliki hati yang terbuka dalam melayani Gereja dan masyarakat di mana pun mereka nantinya diutus. 



Dengan berakhirnya Jambore Seminari Regio Sumatera 2026, seluruh peserta kembali ke seminari masing-masing dengan membawa pengalaman, persahabatan, dan inspirasi baru. Pertemuan yang singkat ini telah menjadi ruang pembentukan yang berharga, meneguhkan setiap seminaris untuk terus melangkah dalam panggilan dengan hati yang semakin teguh, iman yang semakin mendalam, serta semangat persaudaraan yang semakin kuat.
Jambore boleh berakhir, tetapi semangat yang telah dibangun bersama diharapkan terus hidup dalam diri setiap seminaris. Dari berbagai penjuru Sumatera, mereka kembali sebagai pribadi-pribadi yang diperkaya oleh pengalaman kebersamaan, siap menjadi saksi Kristus, dan terus melangkah dalam perjalanan panggilan menuju imamat dengan penuh harapan dan sukacita. Penulis : Rm Greg / Edit : Vsh
