Home Asian Church Umat KBG St. Yohanes XXIII Gelar Edukasi Pemilahan Sampah, Wujud Nyata Merawat Rumah Bersama

Umat KBG St. Yohanes XXIII Gelar Edukasi Pemilahan Sampah, Wujud Nyata Merawat Rumah Bersama

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang, Berkatnews.com – Sebagai wujud nyata dalam melaksanakan fokus pastoral Keuskupan “Merawat Rumah Bersama”, Komunitas Basis Gerejani (KBG) St. Yohanes XXIII Paroki Katedral St. Yosef Pangkal Pinang menggelar kegiatan Edukasi Pemilahan Sampah pada Minggu, 28 Juni 2026. Bertempat di kediaman keluarga Bapak Benny dan Ibu Amel, kegiatan yang sarat dengan semangat ekologis ini dimulai pukul 15.00.

Acara ini tidak hanya menggerakkan umat internal KBG St. Yohanes XXIII, melainkan juga berhasil membangun kolaborasi lintas basis dengan kehadiran umat dari KBG lain di Wilayah IX, yakni dari KBG St. Yohanes Paulus II dan KBG St. Yustinus. Total sebanyak 30 umat, belum termasuk anak-anak kecil, hadir memenuhi lokasi kegiatan dengan antusiasme yang tinggi.

Turut hadir sebagai bentuk dukungan struktural paroki, Koordinator Seksi Lingkungan Hidup Paroki Katedral St. Yosef Pangkal Pinang, Ibu Yanti. Kehadiran beliau didampingi oleh Ibu Na Wie, Koordinator Seksi Lingkungan Hidup periode sebelumnya. Keduanya hadir atas undangan khusus dari Seksi Lingkungan Hidup KBG, Leni Julianti.

Sebagai narasumber, KBG St. Yohanes XXIII mengoptimalkan potensi internalnya sendiri, yaitu Bapak Raymond Munte. Beliau merupakan umat setempat sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki kompetensi serta pemahaman mendalam terkait sistem pengolahan sampah.

Gerakan ekologis yang diinisiasi oleh KBG St. Yohanes XXIII ini bukan sekadar aksi seremonial, melainkan sebuah respons konkret terhadap krisis lingkungan yang nyata di depan mata. Ketua KBG, Bapak Fransiskus Andi Krishatmadi menegaskan bahwa langkah ini merupakan dukungan penuh terhadap Fokus Pastoral II Paroki Katedral St. Yosef Pangkal Pinang untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.

Umat dihentak oleh fakta bahwa data menunjukkan sebanyak 55,35% sampah di Kota Pangkal Pinang didominasi oleh sektor rumah tangga. Di sisi lain, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam Pangkal Pinang kian memprihatinkan karena sudah mengalami kelebihan muatan (overload). Menghadapi situasi darurat ini, sebagai bentuk kepedulian, umat KBG perlu mulai memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu dari dapur rumah masing-masing, dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengompos, dan menyetorkan sampah yang bernilai ekonomis ke Bank Sampah.

Dalam paparannya, Bapak Raymond Munte membedah secara praktis bagaimana sampah rumah tangga yang biasanya dicampur dan dibuang begitu saja, sebenarnya bisa diolah kembali untuk memberikan manfaat nyata jika dipilah dengan benar:

  • Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman. Bagi keluarga yang memiliki pekarangan, pembuatan lubang biopori menjadi solusi efektif. Sementara bagi umat yang memiliki lahan terbatas, penggunaan wadah komposter portable dapat menjadi pilihan praktis di dalam rumah.
  • Limbah dapur (minyak jelantah), melalui pengolahan sederhana, dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan bakar lampu penerangan alternatif di rumah.
  • Sampah anorganik (botol plastik, kaleng, dan kardus) yang bernilai ekonomis ini harus dipisahkan dalam keadaan bersih dan kering. Alih-alih dibuang ke TPA, umat dapat mengumpulkannya untuk dibawa ke Bank Sampah. Langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah kota, tetapi juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan (ekonomi sirkular) bagi keluarga. Bapak Raymond merekomendasikan umat menjadi nasabah Bank Sampah El Ha Ka, bank sampah milik Dinas Lingkungan Hidup Provinsi, bahkan beliau menunjukkan harga beli per kilogram setiap item sampah.

Bank Sampah EL HAKA

Seksi Lingkungan Hidup KBG St. Yohanes XXIII, Leni Julianti, mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya melihat antusiasme umat dan dukungan dari pengurus paroki yang hadir. Menurutnya, edukasi ini menjadi alarm penting bagi umat untuk segera memulai kebiasaan baru. “Edukasi ini sangat bermanfaat untuk mengingatkan kita kembali akan pentingnya Pertobatan Ekologis. Sekarang kita jadi tahu cara mengolahnya agar tidak semua menumpuk di TPA Parit Enam,” ujar Leni. Ia menyadari bahwa membiasakan diri memilah sampah di rumah bukanlah perkara mudah karena membutuhkan kesadaran dan konsistensi dari masing-masing keluarga. Oleh karena itu, sebagai langkah tindak lanjut, KBG akan terus mendampingi umat, saling memberikan contoh, dan mendorong gerakan pembuatan biopori serta komposter di rumah-rumah umat secara bertahap. “Harapan terbesar saya adalah kita bisa sungguh-sungguh melakukan Pertobatan Ekologis, dimulai dari diri kita sendiri dan dari rumah kita masing-masing untuk menjaga bumi ini,” pungkas Leni.

Meskipun menyadari membiasakan pemilahan ini tidak mudah, KBG St. Yohanes XXIII optimis bahwa dengan saling memberi contoh dan bergerak bersama, kebiasaan baru ini akan menjadi bagian dari kesaksian iman umat dalam menjaga bumi.

Penulis :  Lidwina Lan Cen / Edit : Vsh

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi